Monday, 18 January 2010

Lagi, Empat Gereja Malaysia Diserang

Kuala Lumpur: Serangan bom api melanda empat gereja di Malaysia, Ahad (10/1). Ini merupakan serangkaian serangan terhadap rumah ibadah umat Kristen, setelah putusan pengadilan mengabulkan penggunaan kata "Allah" bagi non-muslim. Meskipun terjadi serangan, ribuan pemeluk kristiani tetap menghadiri ibadah minggu. Mereka berdoa untuk persatuan nasional sehingga mengakhiri kekerasan.

Serangan yang belum pernah terjadi pada tahun-tahun sebelumnya ini memicu gelombang keresahan di kalangan minoritas Kristen di Malaysia. Termasuk, ketegangan hubungan mereka dengan mayoritas muslim di Malaysia. Sekitar sembilan persen penduduk Malaysia yang berjumlah 28 juta adalah umat kristiani, yang kebanyakan etnis Cina dan India. Muslim mendominasi dengan 60 persen, dan kebanyakan dari mereka adalah etnis Melayu.

Seperti dilansir Associated Press, Ahad, pagi tadi sebuah bom molotov dilemparkan ke All Saints Taiping, gereja di pusat kota Negara Bagian Perak. Serangan ini terjadi sebelum gereja dibuka. Kepala kepolisian setempat, Zulkifli Abdullah, mengatakan pihaknya menemukan bekas kobaran api di dinding, namun tidak ada kerusakan pada bangunan.

Hari yang sama sebuah pecahan botol minyak tanah bersumbu gelap ditemukan dalam substansi Gereja Katolik St. Louis. Menurut seorang saksi mata, pecahan botol serupa didapati di Taiping. Dia mengatakan, hal itu tampaknya sebuah serangan yang gagal.

Menurut Menteri Hishamuddin Hussein, sebuah gereja di Kota Miri di Negara Bagian Sarawak timur dilaporkan menjadi tempat percobaan pembakaran. "Situasi berada di bawah kendali dan orang tidak boleh khawatir," katanya seperti dikutip Kantor Berita Bernama.

Empat gereja juga telah terkena bom bensin pada Jumat dan Sabtu silam. Tidak ada yang terluka dan semua hanya menderita kerusakan kecil, kecuali Gereja Tabernakel Metro.

Sengketa ini berawal dari 31 Desember, dimana putusan pengadilan tinggi yang membatalkan permintaan pemerintah melarang non-Muslim menggunakan kata "Allah" dalam doa dan sastra.

Rev Hermen Shastri, Sekretaris Jenderal Dewan Gereja Malaysia berkata orang Kristen tidak akan terintimidasi oleh serangan. "Kita semua harus berdiri bersama-sama untuk membasmi teror yang diabadikan oleh kelompok-kelompok ekstremis ini," katanya.

Para pejabat pemerintah maupun banyak tokoh muslim juga telah mengutuk pengeboman tersebut. Mereka mengatakan bahwa ajaran Islam tidak mengajarkan untuk menyerang tempat-tempat ibadah.

Adapun saat mengunjungi Gereja Kemah Suci Metro, kemarin, Perdana Menteri Najib Razak memberikan hibah sebesar 500.000 ringgit (U$ 147.000) untuk membangun kembali gereja di lokasi yang baru. Konsesi utama di sebuah negara, di mana jarang diberikan izin untuk membangun gereja-gereja baru atau kuil.(ANS)

source: berita.liputan6.com