Monday, 14 June 2010

Hadapilah Kekerasan Dengan Kelemahlembutan

Nas : 1 Petrus 3 : 13 – 17.
Thema : Ketidakadilan/Kekerasan Sosial.
Persekutuan orang percaya adalah bangunan Allah yang didasarkan atas Kristus Yesus. Fungsi dari persekutuan adalah mengabdi kepada Allah dan bersaksi kepada manusia. Sebagai persekutuan orang-orang percaya maka setiap anggota harus memiliki tanggung jawab kepada Allah. Kitab Petrus ini hendak menyingkapkan akan kedatangan Kristus kembali, yang tidak akan lama lagi.

Petrus mengingatkan pembaca, bahwa Kristus, walaupun tidak kelihatan, tetapi tidak pernah jauh. Ia juga menunjukkan kepada anggota persekutuan akan kemuliaan yang akan mereka terima pada waktu Kristus menyatakan dirinya kembali. Kedatangan Kristus kembali menjadi penyempurnaan keselamatan dan pintu masuk menjadi pewaris Kristus. Pengharapan akan kedatanganNya adalah alasan yang mewajibkan agar setiap anggota persekutuan senantiasa berbuat baik. Pengharapan adalah hal yang harus ditanamkan sedemikian dalam, sehingga pada saatnya, orang-orang percaya mengalami kebahagiaan yang kekal.

Penjelasan.
Perbuatan baik menjadi sangat penting sebagai buah dari iman. Perbuatan baik adalah tindakan nyata yang dapat dilihat dan dirasakan oleh orang lain. Yesus telah memperlihatkan perbuatan baik secara konkrit; membuka sekat-sekat pembatas yang membedakan, memberi makan, menyembuhkan orang sakit, menerima keberadaan orang lain sekalipun miskin dan berdosa. Orang-orang percaya harus melanjutkan perbuatan baik yang telah diteladankan Yesus. Perbuatan baik itu sepatutnya dilaksanakan dan disyukuri setiap orang percaya. Perbuatan baik adalah tindakan kasih, yang disukai oleh semua umat manusia. Dengan perbuatan kasih yang dilakukan orang-orang percaya maka orang-orang percaya makin disukai oleh masyarakat. Rasa simpatik masyarakat akan bertambah, sehingga tidak ada lagi yang berbuat jahat terhadap orang-orang percaya. Lebih dari itu, perbuatan baik adalah bukti nyata dari pengharapan orang-orang percaya.
Memang, kehadiran orang-orang percaya ditengah-tengah masyarakat itu masih asing. Sangat mungkin muncul perlawanan, terutama dari orang-orang di sekitar dimana orang percaya mewujudnyatakan perbuatan baiknyaPerbuatan baik itu malah menjadi alasan bagi mereka melakukan kejahatan. Mereka adalah orang-orang yang belum menerima Kristus. Orang-orang percaya bisa saja mengalami kekerasan dari orang-orang jahat ; yang iri, dengki, siryk. Tetapi Petrus menegaskan, bahwa orang-orang yang menyatakan kebenaran akan mendapatkan upah, yaitu kebahagiaan. Orang-orang yang berlaku jahat tidak akan mengenai kehidupan orang-orang yang berbuat baik. Petrus yakin akan kedaulatan Allah dengan keadilanNya, setiap orang percaya menjadi pewaris dari segala berkat yang dijanjikan kepada umatNya. Oleh sebab itu, Orang-orang percaya tidak perlu gentar menghadapi realita kehidupan yang penuh kejahatan ini. Orang percaya tak akan mengalami ketakutan, apabila menjadikan Kristus sebagai pusat kehidupannya. KepadaNya diletakkan akan pengharapan. Rasa takut yang sungguh-sunggguh kepada Tuhan menjadi nampak dalam perbuatan baik, sebagai pernyataan iman. Menguduskan Kristus di dalam hati. Ini menjadi sebuah kekuatan untuk senantiasa berbuat baik. Orang-orang percaya tidak boleh menyerah dengan kejahatan yang berkembang di lingkungan dimana ia berada. Keyakinan sebagai pengikut Yesus jangan pernah punah dari dalam hati. Pengharapaan akan kedatangan Kristus menjadi tujuan mutlak dari orang percaya. Pengharapan orang percaya bukanlah pengharapan siasia, tetapi dapat dipertanggungjawabkan. Pertanggungjawaban dapat dijelaskan dengan lemah lembut, hormat, hati nurani yang murni. Semua ini akan membuat orang-orang yang memfitnah menjadi malu sendiri. Selanjutnya, perbuatan baik yang dilakukan oleh setiap anggota persekutuan dapat diterima masyarakat luas. Klimaks dari gagasan Petrus adalah, “Lebih baik menderita karena berbuat baik, dari pada menderita karena berbuat jahat” (17).

Renungan.

Dalam perjalanannya, Gereja acapkali menghadapi hambatan, walaupun semua itu tidak mampu menghambat untuk semakin merambat. Sulitnya izin pembangunan, pembakaran, dan penutupan Gereja perlu direnungkan ulang ; apakah karena gereja berbuat baik atau karena Gereja tidak berbuat sesuatu. Atau, bukankah karena terlalu besar suara gereja mendengungkan kasih tetapi realita kasih itu tidak tampak? Gereja perlu menampilkan pelayanan yang penuh kasih itu. Perbuatan baik harus dipahami sebagai ungkapan syukur atas pengorbanan Kristus. Dalam melakukan tugas pelayanannya, Gereja memang tidak berjalan mulus ; terseokseok dan penuh ancaman. Gereja harus siap menghadapi kekerasan yang terjadi. Namun, Gereja tidak perlu menghadapi kekerasan itu dengan kekerasan. “Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan! (Roma 12 : 21).” Perbuatan baik ditengah-tengah orang-orang jahat memang hanya mampu diungkapkan oleh orang-orang yang telah mengalami pergumulan yang dalam sebagai pengikut Yesus. AMIN

Pdt. Hasintongan Gurning, M.Min.