Monday, 14 June 2010

“Berhati-hatilah Supaya Engkau Jangan Melupakan Tuhan!”

Nas : Ulangan 6 : 10 – 15.
Thema : Kerawanan Pangan.
Melupakan seseorang yang telah berbuat baik terhadap kita adalah sesuatu sikap yang amat dibenci. Terhadap sikap ini sederet kata-kata akan disampaikan, semisal: Tidak tahu diri, lupa kacang akan kulitnya, tidak tahu diuntung, tidak tahu berterimakasih, habis manis sepah dibuang, dll. kontras dengan sikap ini, seseorang yang tahu bersyukur atau berterimakasih adalah orang yang tidak pernah melupakan orang yang telah menolong dan berbuat baik kepadanya, serta berupaya melakukan yang baik sebagai balasan atas kebaikan yang diterimanya, dan bukan hanya kepada yang telah melakukan kebaikan kepada kita, tetapi juga kepada semua orang. Inilah sikap yang terpuji.

Demikianlah juga dalam nas ini, Musa mengingatkan umat Israel untuk tidak melupakan apa yang telah diperbuat Tuhan kepada mereka. Musa menetapkan peraturan yang akan dilaksanakan umat Israel seumur hidup setelah memasuki tanah Perjanjian, untuk takut akan Tuhan dan beribadah hanya kepadaNya saja: ”Inilah perintah, yakni ketetapan dan peraturan, yang aku ajarkan kepadamu atas perintah TUHAN, Allahmu, untuk dilakukan di negeri, ke mana kamu pergi untuk mendudukinya, supaya seumur hidupmu engkau dan anak cucumu takut akan Tuhan…” (Ulangan 6:1). Takut akan Tuhan, dan beribadah kepadaNya saja sebagai wujud kasih kepada TUHAN dan respon iman dari orang-orang yang menerima belas kasihNya, yang harus mereka praktekkan dalam kehidupan sehari-hari.

Penjelasan.

Untuk itulah satu kalimat yang amat tegas dinyatakan oleh Musa dalam nas ini yang berlaku tidak hanya kepada umat Israel dalam zamannya, tapi juga bagi setiap orang percaya hingga kini dan sepanjang masa adalah: “Berhati-hatilah Supaya Engkau Jangan Melupakan TUHAN…!”, sebab:

Perintah Kasih akan TUHAN adalah ketetapan dan peraturanNya!

Nasihat untuk sekali-kali tidak melupakan Tuhan dengan takut dan beribadah kepadaNya adalah sesuatu yang Tuhan perintahkan kepada umatNya. Itu artinya bahwa takut akan Tuhan adalah sesuatu yang mutlak untuk dilakukan, alasan pertama dan terutama untuk itu adalah bahwa perintah itu merupakan peraturan dan ketetapan Tuhan. Sebab hidup keberagamaan berarti penaklukan diri atas kekuatan Ilahi atau keberadaan yang terutama (The Ultimate Being) yang kita akui, imani, yang mutlak lebih tinggi dan berkuasa atas diri kita. Sehingga kerelaan hati untuk menaklukkan diri kepada perintahNya merupakan respon keberagamaan dan beriman yang benar. Perintah itulah yang disampaikan oleh Musa kepada umat Israel untuk dilaksanakan secara turun temurun dan untuk selamanya. Respon ketaatan dan kesetian untuk menjalankan perintah ini akan diganjar dengan berkat: ”…Supaya kamu hidup, dan baik keadaanmu serta lanjut umurmu di negeri yang akan kamu duduki.” (Ulangan 5:33). Sebaliknya, ketidaktaatan atas perintah ini akan mendatangkan kutuk: ”…supaya jangan bangkit murka TUHAN, Allahmu, terhadap engkau, sehingga Ia memunahkan engkau dari muka bumi” (Ulangan 6:15).


TUHAN itu Baik!

“Berhati-hatilah supaya engkau jangan melupakan Tuhan!” sebab Tuhan itu baik dan mengasihi umatnya. Kasih Tuhan akan umat Israel sudah diperlihatkan lewat sejarah perjalanan umat Israel keluar dari Mesir. Tangan Tuhan yang kuat telah menuntun serta menyertai mereka keluar dari tangan musuh-musuhnya, memelihara hidup mereka selama dalam perjalanan panjang yang penuh dengan mara bahaya, dan hingga akhirnya membawa mereka ke tanah Perjanjian dan memberikan kepada mereka kota-kota yang besar, rumah-rumah yang berisi barang baik, sumur-sumur yang tidak digali oleh tangan mereka, kebun anggur dan Zaitun yang tidak ditanami oleh tangan mereka. Tidak terukur kasih Tuhan atas umatNya, sehingga sudah sepantasnya mereka bersyukur dan tidak melupakan Tuhan dalam hidupNya. Berhati-hati untuk tidak melupakan Tuhan juga adalah perintah yang patut untuk kita amalkan hingga kini sebab sesungguhnya Tuhan itu baik, yang senantiasa memberi nafas hidup, melindungi dan memelihara hidup orang percaya. Segala yang kita miliki adalah anugerah Tuhan semata, kita percaya Tuhan adalah sumber segala karunia yang baik untuk hidup ini, tangan Tuhan senantia bersedia melindungi dan menuntun hidup kita melewati segala rintangan hidup. Dia tempat perlindungan bagi orang yang lemah, penghiburan bagi orang yang berduka, harapan bagi mereka yang hidup dalam keputusasaan dan ketidakpastian.


TUHAN Allah pencemburu!

Beribadah hanya kepada TUHAN Allah saja merupakan perintah untuk tidak menghianati Tuhan dengan segala kebaikannya dengan tidak menyembah berhala atau menyembah allah bangsa-bangsa lain disekeliling umat Israel di tanah Perjanjian. Perintah ini mengingatkan umat Israael untuk tidak menyimpang ke kiri dan ke kanan tetap untuk senantiasa mengarahkan hidup untuk beribadah hanya kepada TUHAN Allah saja. Sebab Allah itu adalah yang pencemburu yang marah atau murka terhadap penghianatan atau kemurtadan. Tuhan Allah adalah Allah yang cemburu yang berarti meminta ketaatan dan kesetiaan penuh dari umatNya. Inilah juga yang amat perlu untuk diamalkan dalam hidup umat percaya saat ini. Kasih Tuhan itu sungguh besar atas umatNya, Tuhan itu sungguh menghargai dan menjungjung tinggi umatNya sebagai kekasih hatiNya, Dia bahkan rela mati untuk umatNya dalam diri Yesus Kristus, tetapi penghargaan, kerelaaan, kesetiaan yang sama juga dituntut atas umat yang dikasihiNya.

Renungan.

Kasih Allah begitu besar atas hidup orang percaya, kasih yang sama juga dituntut dari kita orang-orang percaya sebagai jawaban iman kita atas kasihnya. Marilah kita mengasihi Tuhan dengan setia, sebab Dia telah terlebih dahulu mengasihi kita. Amin.

Pdt. Thomas A. Sitorus, M.Th.