Monday, 14 June 2010

Ketaatan Yang Mutlak Kepada Allah Lebih Dari Sekedar Beragama

Nas : Yesaya 54 : 7 – 10.
Thema : Bersukacitalah dan bersorak-soraklah.
Menurut para teolog Perjanjian Lama, nama Yesaya (bahasa Ibrani: yesya’yahu) yang berarti: Allah akan menyelamatkan atau Allah adalah keselamatan. Allah disebut sebagai “Allah yang menyelamatkan engkau (Yes.17:10). Kitab Yesaya adalah salah satu kitab terbesar dalam kanon Alkitab, bersama-sama dengan Kitab Mazmur dan Kitab Yeremia.

Yesaya bin Amos adalah seorang Yehuda yang memulai pelayanannya pada tahun wafatnya Raja Uzia (740 SM) sampai pada pemerintahan Raja Yotam, Ahas dan Hizkia. Yesaya merasakan panggilan ilahi membebankan suatu tugas khusus ke pundak atau atas bahunya untuk menyuarakan suara kenabian bagi orang Israel. Dalam Yesaya 40-55, nubuat tentang pembebasan dari musuh dan penindas, gagasan mengenal tebusan dihubungkan dengan keselamatan, bahwa Allah adalah satu-satunya juruselamat (Yes. 43:11-12) keselamatan merupakan pembebasan Allah atas umat Israel yang menderita sengsara selama di pembuangan. Namun Allah tetap setia kepada janji-Nya untuk memperbaharui dan memulihkan kehidupan umat-Nya itu.

Penjelasan.

Ayat 7-8: kedua bagian ini memperlihatkan bahwa kasih setia Allah itu tidak dibatasi waktu atau tempat melainkan semata-mata oleh belas kasihan Allah semata. Hal ini terlihat pada kata: “hanya sesaat lamanya” (bhs. Batak: “satongkin, satangkirisap”. Dari segi waktu secara ilmiah kalau dihitung-­hitung adalah amat sangat lama umat Allah mengalami kesesakan di tanah pembuangan, hidup mereka bagaikan tak berarti, tak memiliki tanah air (negeri). Tetapi karena kasih sayang Allah yang besar, Allah memulihkan dan memanggil mereka kembali. Kata kembali di sini berarti: kembali pulang, diperbolehkan dan diselamatkan. Ayat 9-10: Kedua bagian ini memperlihatkan keadaan kehidupan pada zaman Nuh, manusia dan dunia tertimpa air bah, manusia dan dunia mengalami sengsara kecuali Nuh dan keluarganya.

Renungan.

Nas di atas menjadi renungan di Minggu Invokavit, yang berarti: Aku akan dipanggil-Nya. Panggilan Allah atas Yesaya menjadi hamba-Nya tercermin dan tampak pada hubungan Allah atas hamba-Nya yang senantiasa didasari atas kasih dan perjanjian. Dalam nas di atas tampak jelas janji Allah untuk Pemulihan (Restorasi) kota Sion yang menjadi tema besar Yesaya 49:1; 55:13. Perutusan Nabi Yesaya ke tengah umat Israel sekaligus hendak memperlihatkan kebenaran Allah bahwa Dialah yang menyelamatkan dan mengeluarkan umat Isreal dari perbudakan, kesengsaraan di tanah Mesir, sekaligus menegaskan agar umat Israel kembali beribadah kepada-Nya dan menjadi terang bagi bangsa-bangsa. Yesaya juga memproklamasikan berita kegembiraan kepada Sion bahwa Allah menjamin masa depan hidup manusia dan seluruh isi bumi di tengah bumi, Allah takkan mengutuk bumi ini lagi karena kejahatan manusia. Janji Allah ini ditepati sejak zaman Nuh. Janji kepada Sion juga pasti. Pemulihan hubungan Allah atas umat-Nya itu, menunjukkan bahwa Allah ada bersama umat-Nya di dalam suka maupun di dalam duka. Pemulihan Allah atas umat-Nya secara utuh dan meyeluruh (holistik) baik jasmani dan rohani memampukan umat-Nya itu menjadi terang bagi bangsa-bangsa. Secara fakta sejarah, kehancuran kota Sion dan Bait Allah tidak terlepas atas kejahatan umat Allah yang kerap berpaling dari keadilan dan kebenaran Allah. Masa-masa hidup di tengah pembuangan dimaksudkan sebagai pembelajaran untuk melatih ketahanan iman, kesabaran, ketabahan dan penantian yang pasti akan kasih dan pertolongan Allah. Hal yang pasti dari sejarah yang tak bisa kita sangkal, Allah acapkali menghukum umat-Nya lewat berbagai cara dengan tujuan penyadaran, pertobatan dan hidup baru. Ketaatan yang mutlak kepada Allah lebih dari sekedar beragama, mengajak umat Kristen tetap berpengharapan, realistis dan optimis di tengah situasi krisis, skeptis dan mistis. Allah memanggil kita menjadi terang bagi bangsa-bangsa, gereja terpanggil untuk menyelamatkan jiwa-jiwa yang tersesat, murtad dan memiliki hidup baru. Amin.

Pdt. M. Hutabarat, S.Th.